Jumat, 12 Desember 2008

SUKU DANI LEMBAH PALIM/BALIM WAMENA

A. KEBUDAYAAN DAN ADAT SUKU DANI WAMENA PAPUA

1. Geografis, Iklim dan Penduduk

Propinsi Papua adalah salah satu propinsi Indonesia
dengan luas wilayah 416.000 km2 atau tiga kali
setengah Pulau Jawa. Propinsi yang amat luas ini hanya
dihuni 2.013.620 juta jiwa penduduk. Dengan tingkat
kepadatan penduduk terjarang di Indonesia, yaitu
kurang lebih 4 jiwa, perkilo meter persegi. (BPS,
Propinsi Papua, 2007).

Kabupaten Jayawi Jaya berpenduduk 400130 jiwa dengan
tingkat kepadatan 8,20 jiwa perkilo meter persegi.
Secara geografis Kabupaten Jayawijaya terletak antara
30.20 sampai 50.20' Lintang Selatan serta 1370.19'
sampai 141 Bujur Timur. Batas-batas Daerah Kabupaten
Jayawijaya adalah sebagai berikut : Sebelah Utara
dengan Kabupaten Jayapura dan Kabupaten Yapen Waropen,
Barat dengan Kabupaten Paniai, Selatan dengan
Kabupaten Merauke dan Timur dengan perbatasan negara
Papua New Guinea. (BPS, Propinsi Papua, 2007).

Kabupaten Jayawi Jaya terletak di Pegunungan Tengah
Papua. Ibukota Kabupaten Jayawi Jaya adalah Wamena.
Kini Kabupaten Jawi Jaya sudah dimekarkan menjadi
empat Kabupaten baru yakni: Kabupaten Yahukimo,
Kabupaten Tolikara, Kabupaten Punjak Jaya, dan
Kabupaten Pegunungan Bintang.

Jayawi Jaya beriklim tropic basah, hal ini dipengaruhi
oleh letak ketinggian di permukaan laut dengan
temperatur udara bervariasi antara 80-200Celcius
dengan suhu rata-rata 17,50Celcius dengan hari hujan
152,42 hari pertahun tingkat kelembaban diatas 80%,
angin berhembus sepanjang tahun dengan kecepatan
rata-rata tertinggi 14 knot dan terendah 2,5 knot.

Topografi Kabupaten Jayawi Jaya terdiri dari
gunung-gunung yang tinggi dan lembah-lembah yang luas.
Diantara puncak-puncak gunung yang ada beberapa
diantaranya selalu tertutup salju misalnya Pucak
Trikora 4750 m, Puncak Yamin 4595m dan Puncak Mandala
4760m. Tanah pada umumnya terdiri dari batu
kapur/gamping dan granit terdapat di daerah pegunungan
sedangkan di sekeliling lembah merupakan percampuran
antara endapan Lumpur, tanah liat dan lempung.

Penduduk asli yang mendiami Kabupaten Jayawi Jaya
adalah Suku Dani, Kimyal dan Suku Jali. Selain
penduduk asli, terdapat juga penduduk yang berasal
dari daerah-daerah lain di Indonesia yang berada di
Kabupaten Jayawi Jaya bekerja sebagai pegawai negeri,
ABRI, Pengusaha, pedagang, transmigrasi dan
sebagainya.

2. Tempat Tinggal dan Mata Pencaharian

Rumah bertempat tinggal Suku Dani di sekitar pinggir
sungai Palim dan di lereng-lereng bukit Lembah Besar
Palim/Balim. Pemukiman penduduk biasanya di sekitar
anak sungai dari berbagai arah yang bermuara ke Sungai
besar Palim. Pekarangan rumah tempat tinggal Suku Dani
di Lembah Palim/Balim Selatan biasa dinamakan Osilimo,
yang terdiri dari beberapa unit rumah yaitu, Honai,
Eweai dan Leseai. Rumah/Lese, (berbentuk segi empat
panjang, paling sedikit 2 sampai 5 lese) berfungsi
sebagai rumah induk untuk tempat berkumpul keluarga,
tempat masak, makan. Honai, (rumah tidur khusus
laki-laki) dan Eweai (rumah tidur khusus perempuan).
Osili berdiam beberapa unit kerabat kepala keluarga.

Dalam Osili yang besar dan luas terdiri dari lima
sampai sepuluh Lese dan satu besar Honai. Honai Adat
biasanya tersimpan benda-benda keramat clan suku . Ada
juga hanya dua Lese dan satu Honai tanpa ada benda
keramat clan. Umumnya rumah tempat tinggal di Balim
dikelilingi oleh pagar dari batu atau dari kayu. Dalam
satu Lese kadang-kadang bisa tinggal dua kelapa
kelurga.

Honai dan Eweai bentuknya ruamahnya bulat tanpa ada
tempilasi udara untuk menghindari udara yang sangat
dingin. Pada sore hari sampai menjelang tidur malam,
didalam honai dan eweai dibuat api agar tetap hangat.
Dalam honai/eweai, ada para-para untuk tempat tidur.

Tidak seperti daerah lain, umumnya ruang tidur kaum
laki-laki dan wanita harus terpisah. Karena honai pria
Balim tersimpan benda-benda keramat clan seperti,
hareken, tugi mugu, yang biasa tersimpan dalam lemari
(kakok). Karena itu honai dalam tradisi pantangan
dimasuki kaum wanita.

Honai digunakan juga rapat-rapat kaum pria dalam
berbagai masalah, yang dianggap pantangan didengar
kaum wanita, misalnya strategi perang suku antar
konfederasi (perang suku kini sudah dilarang oleh
pemerintah Indonesia).

Orang Wamena kini sudah banyak yang mengenakan
pakaian, tapi pada masa lalu busana mereka adalah
Holim bagi pria dan Yokal dan Sili bagi kaum wanita
Palim. Holim/Koteka, dibuat dari jenis labu yang
dikeringkan dan dibolongi sebagai alat penutup aurat
pria. Yokal adalah anyaman dari kulit kayu yang
dipintal kaum wanita.

Yokal, biasanya dikenakan bagi wanita yang sudah
menikah, sedangkan bagi gadis-gadis Balim pakaian
roknya disebut Kemsili. Ciri seorang wanita Balim
Selatan sudah menikah atau belum ditentukan dari busan
penutup aurat. Jika sudah menikah maka wanita Balim
biasanya mengenakan Yokal, tapi kalau masih gadis
mengenakan Sili/Kemsili.

Orang Palim pada umumnya bermata pencaharian
sehari-hari bercocok tanam atau petani ladang. Hal ini
dimungkinkan karena alamnya cukup subur. Usaha
pertanian subsistem di usahakan secara tardisional
untuk konsumsi mereka sehari-hari, Kebun-kebun mereka
yang tidak hanya dibuat di Lembah Balim melainkan juga
di daerah-daerah yang tinggi di lereng-lereng gunung
yang curam, terurus baik. Orang Dani juga mengenal
sedikit irigasi, dan kebun-kebun mereka seringkali
tampak dikelilingi dan dipotong-potong oleh
parit-parit kecil, yang mereka buat dengan menggunakan
kapak, tongkat tugal, atau dengan mengeruk tanahnya
dengan tangan saja.

Tanaman yang terpenting adalah Ubi atau Hom (Discorea
esculania), tebu atau El (Sacharum officinarum), dan
sebanyak kurang lebih 17 jenis tanaman lain, berikut
varietas-varietasnya. Mereka mengenal sebanyak 50
varietas ubi (Versteegh, 1961), yang masing-masing
dipetik pada waktu-waktu berlainan sepanjang tahun.
Pengangkutan hasil kebun kerumah dilakukan oleh para
wanita.

Ubi Jalar (Hopuru) adalah tanaman terpenting dan utama
karena erat kaitannya dengan mitologi asal mula
kejadian manusia. Mereka juga menanam Keladi (Hom),
Tebu (El), Pisang (Haki) dan berbagai jenis sayur
mayur secara tumpang sari, misalnya; Jagung, Kedele,
Buncis, Kol, Bayam dan lain-lain, sebagai tanaman baru
yang diperkenalkan dari daerah lain.

Cara bercocok tanam orang Balim adalah
berpindah-pindah. Tanah digarap selama beberapa musim
tanam, dan apabila tanah itu telah Â`lelahÂ' karena
kehabisan zat-zatnya, tanah itu ditinggalkan. Kemudian
di buka sebidang tanah yang baru. Tanah yang telah
ditinggalkan itu kemudian memperoleh kesempatanuntuk
menjadi subur kembali.

Disamping bercocok tanam berpindah-pindah (secara
teratur), orang Dani juga (banyak) memelihara babi.
Binatang ini dapat dimiliki secara pribadi oleh pria
maupun Wanita, tetapi yang biasanya memelihara
(menggembala) babi adalah wanita dan anak-anak. Pada
waktu senja (menjelang malam) babi diberi makan ubi,
tetapi sepanjang hari sampai sore binatang-binatang
itu dibiarkan berkeliaran di desa atau dikebun untuk
mencari makannya sendiri. Babi jantan biasanya di
kebiri agar tumbuh menjadi besar, dan hanya sedikit
saja yang dipelihara untuk pejantan (sic).

Orang Dani umumnya mengkonsumsi daging babi pada waktu
mengadakan pesta, seperti pesta berkenaan dengan
upacara-upacara sepanjang daur hidup individu
(kelahiran, inisiasi, perkawinan dan sebagainya),
pembakaran jenazah, dan pada pesta-pesta babi.

Selain sebagai bahan pangan, babi juga dimiliki untuk
menambah gengsi. Orang-orang yang mempunyai kedudukan
penting atau orang berpengaruh tentu memiliki banyak
babi. Babi juga merupakan barang berharga untuk
leperluan-keperluan yang bersifat ekonomi dan sosial,
dan dapat dipakai untuk membalas jasa, meredakan
permusuhan (dalam perang suku), tetapi juga sebagai
unsur (penting) mas kawin (dalam adat perkawinan).

Pada musim panen ubi, pria Balim Selatan mengurus
secara baik kebun kelapa hutan mereka yang disebut
Kain. Kain adalah tumbuhan sejenis pohon pandan yang
hanya tumbuh di pegunungan diatas ketinggian 3000-4000
dpl. Jenis pohon ini sama halnya dengan pohon Sap/Buah
Merah, Wamena, diurus baik oleh kaum pria Balim.

Disamping Kain, tanaman utama dalam kebun orang Balim
Selatan adalah Weramo dan Tuke. Weramo biasanya tumbuh
liar di hutan tapi tetap dirawat dengan batas-batas
kepemilikan secara jelas dan tegas bagi penduduk.
Demikian juga dengan Tuke, yang lokasi tumbuhnya dekat
dibawah salju abadi diatas ketinggian 4000 kaki dpl.

Pria Balim selatan dalam musim kemarau juga sering
berburu sebagai pekerjaan sampingan. Biasanya orang
Balim Selatan berburu berbagai jenis burung dan kukus,
seperti kus-kus pohon, kangguru pohon, burung kasuari
dan lain-lain.

Pada masa kini banyak juga orang Palim yang bekerja
berbagai jawatan profesi. UU Otonomi Khusus No 21
tahun 1999, memungkinkan orang Palim/Balim bekerja di
berbagai jawatan profesi misalnya pegawai negeri,
TNI/POLRI, guru dan lain-lain.

3. Nama dan Bahasa

Kris Manning dan Ross Garnaut (1979:9) bahwa daerah
pedalaman Papua mulai didiami manusia lebih dari pada
25.00 tahun yang lalu. Penghuni Lembah Baliem yang
menurut kata orang di zaman dahulu kala merupakan
danau yang sangat luas.

Perkampungan yang pertama kali diketahui di Lembah
Baliem diperkirakan sekitar ratusan tahun yang lalu.
Banyak explorasi di dataran tinggi pedalaman Papua
yang dilakukan. Salah satu diantaranya yang pertama
adalah Expedisi Lorentz pada tahun 1909-1910
(Netherlands), tetapi mereka tidak beroperasi di
Lembah Baliem.

Memang, sebelum kedatangan orang, Suku Dani Balim dari
daerah-daerah lain sejak tahun 1909 sudah pernah
berhubungan dengan orang-orang dari dunia luar, yaitu
dengan kedatangan expedisi militer Belanda kedarah
Hulu sungai Lorentz. Orang Dani dari Lemabah Swart
bahkan telah berhubungan lebih intensif dengan adanya
expedisi ilmiyah pimpinan J. A. G. Kremer didaerah itu
dalam perjalanannya ke Puncak Trikora dalam tahun 1920
dan 1921, dan dengan kedatangan expedisi ilmiyah
Sterling dalam tahun 1926. Adapun penduduk Lembah
Besar Balim baru melihat orang asing ketika expedisi
ilmiah R. Archbold melintasi lembah itu dari arah
utara ke arah selatan, ditempat Wamena sekarang.

Richard Archold anggota timnya adalah orang pertama
yang mengadakan kontak pada tahun 1935 dengan penduduk
asli yang belum pernah mengadakan kontak dengan negara
lain sebelumnya. Pengaruh Eropa dibawa ke para
Missionaris yang membangun pusat Missi Protestan di
Hetegima sekitar tahun 1957. Kemudian setelah Bangsa
Belanda mendirikan kota Wamena maka agama Katholik
mulai berdatangan. Orang Jayawijaya di Lembah Balim
dan sekitarnya tidak menyebut dirinya sebagai Suku
Dani. Nama Â`DaniÂ' atau Â`NdaniÂ' sendiri tidak
mereka sukai, baik di sebelah barat maupun di sebelah
timur kabupaten.

Penduduk Jayawi Jaya sebagai satu kesatuan manusia,
menyebut nama asal dirinya dengan nama perkampungannya
atau kadang-kadang dengan nama dari gabungan
perkampungan-perkampungan tempat tinggalnya. Orang
Balim tidak mengindetitaskan diri sebagai suku etnis
Ndani/Dani, tetapi menyebut diri Â`nit apuni Palim
MekeÂ'/kami orang Balim/Palim yang mengandung makna
Â'manusia sejati dan asliÂ'.

Penduduk Lembah Besar Balim serta dilembah-lembah
lain disekitarnya dalam laporan-laporan atau
tulisan-tulisan yang terbit sebelum perang dunia ke II
kadang-kadang dikenal dengan nama Pesegem, Timorini,
Morip, Uringup dan lain-lain. Beberapa orang yang
berpandangan lebih luas menyebut dirinya Â"Nit Apuni
Palima MekeÂ", yang artinya Â`kami manuai PalimÂ'.
Adapun nama sekarang yang lazim di pakai pemerintah
untuk menyebut seluruh penduduk Lembah Besar Balim
adalah Dani, yang juga merupakan nama sebuah klen.
Lembah-lembah yang berada dibagian barat, Dani juga
merupakan dari nama bahasa mereka. Demikian juga orang
Moni menyebut Ndani atau Lani (sic).

Biasanya Suku Dani akan menyebut asal dirinya dari
nama-nama sungai yang mengaliri disekitar rumah tempat
tinggalnya, misalnya : Palima/Balima berasal dari nama
sungai Palim/Balim, Pelewaga berasal dari nama sungai
Peleima, Uelesi/Walesi dari nama sungai Uweima, Hepuba
berasal dari nama sungai Hepuima dan Hitigima dari
nama hitigima.

H. Myron Bromley (1994), seorang Missinaris Kristen
juga ahli bahasa yang telah lama melakukan penelitian
di Papua sejak bulan April 1957, menyatakan bahwa:
Â"Propinsi Irian Jaya terkaya akan kebudayaan dan
bahasa yang berbeda karena memiliki kurang lebih 250
bahasa, yang merupakan jumlah yang lebih dari
sepertiga dari bahasa di IndonesiaÂ".

Bahasa daerah di Kabupaten Jayawi Jaya cukup banyak
penuturnya dan dapat digolongkan menjadi tiga rumpun
bahasa, sebagai berikut:

a. Rumpun bahasa Ok (ada juga di Papua Nugini) bahasa
Ngalum di Oksibil dan Kiwirok sekitarnya, dengan
kira-kira 10.000 penutur.
b. Rumpun bahasa Mek ( belum jelas bagaimana bahasa
tersebut)

c. Rumpun bahasa Balim

Sub-Rumpun Baliem Pusat dalam penggolongan rumpun
bahasa yakni :

1). Sub Rumpun Yali-Ngalik.
2). Sub-Rumpun Baliem Pusat
3). Sub Rumpun Wano
Perbedaan fonemik dari logat-logat bahasa Dani ini
diteliti, H.M.Bromley. Berdasarkan analisanya itu
(1961) ada sembilan buah logat, yaitu :

(a). Logat Dani Induk didaerah didaerah Lembah Baliem
Hulu.
(b). Logat Dani Bagian Barat di Lembah Ilaga, Sinak,
Swart dan Hablifuri Hulu.
(c). Logat Dani Wolo di sekitar sungai Wolo di lereng
Gunung Piramid.
(d). Logat Dani Kimbim disekitar sungai Kimbim dan
Wosi.
(e). Logat Dani Ibele sekitar sungai Bele.
(f). Logat Dani Aikhe sekitar sungai Aikhe.
(g). Logat Dani dari daerah Wamena dan sekitar sungai
Uwe hingga kira-kira sungui Mugi.
(h). Logat Dani Jurang didaerah yang menyempit
dilembah sungai Baliem,tempat sungai itu terjun
kedalam sungai Vriendschap.
(i). Logat Dani Hablifuri di daerah Hablifuri
Dialek Lembah Agung Selatan, dari sebelah Selatan
Wamena sampai Lembah Samenage di Pasema dan Lembah
Wet, Walesi, Walaik, Hetigima, Hepuba, Maima, Seima,
Kurima, Tangma, Heageima, kira-kira 20.000 penutur.

4. Organisasi Sosial

Orang Balim harus hidup dalam relasi serasi dengan
sesama, alam sekitar dan leluhur. Manusia dengan
keseluruhan kosmosnya saling berintegrasi, saling
menghidupi. Manusia dengan alam sekitarnya dan denga
leluhur dipandang sebagai satu keseluruhan yang saling
menghidupi dan bersifat rohani serta jasmani. Manusia
merupakan bagian dari alam, saudara semua makhluk
sehingga ia dapat menemukan tempat yang sesungguhnya
didunianya. Dengan demikian hidupnya baru berarti jika
ia berada dengan sesama leluhurnya dan alam sekitar.
Sistem relasi antara sesama manusia berfungsi menuruti
dua prinsip utama, yakni :

1). Prinsip garis keturunan secara biologis atau
geneologis;
2). Menurut prinsip organisasi sosial

Namun relasi dapat diperluas secara tak terbatas
sampai ada relasi suku atau belahan/paro/moiety/suku.
Hal ini di sebabkan karena setiap anggota masyarakat
menyatakan keanggotaannya sesuai pengalaman kenyataan
hidup dimana ia menjadi anggota suatu kelmpok.

Masyarakat Baliem Selatan dari masing-masing
perkampungan adalah suatu gugusan desa-desa atau
kesatuan wilayah dengan pola kekerabatan menjadi
terikat satu sama lain dan membedakan diri satu sama
lain berdasarkan masing-masing gugusan kelompok tempat
tinggalnya. Masing-masing kelompok terdiri dari dua
moety (belahan) yang diatur dalam pola perkawinan
secara teratur.

Dua belahan moety adalah memungkinkan kedua bela pihak
saling melindungi, menghidupi dan berkembang dalam
pola perkawinan yang teratur bersifat patriarki. Hal
ini diungkapkan dalam ungkapan sehari-hari dalam
sapaan diantara mereka seperti : "Nahgosa (mamaku),
neak (anakku)". Ungkapan demikian ini diucapkan sesama
lelaki yang artinya mamaku, anakku yang adalah sapaan
umum terhadap perempuan. Makna ungkapan seperti ini
mengandaikan; tanpamu aku tiada, dan akupun tiada
tanpamu atau tanpaku engkau tiada. Engkau penyebab
keberadaanku. Suatu pola hubungan kekerabatan yang
erat dan saling menghidupi, bagi keberlangsungan
etnisitas mereka.

Demikian pula lambang lingkaran (termasuk honai yang
bulat) dan bahkan pembentukan konsensus maupun
pernyataan konsensus yang dinyatakan dalam posisi
duduk atau menari dalam bentuk lingkaran, menyatakan
keinginan mempertahankan kebersamaan sosial mereka,
dengan contoh menjelaskan sikap kekeluargaan dan
kebersamaan serta kesetiakawanan sosial yang sangat
mereka junjung tinggi.

Mungkin kesetiakawanan soaial ini merupakan hasil
rekayasa sosial beberapa ribu tahun yang lalu, waktu
prajurit Wita yang hanya berpanah dan bertombak serta
hidup dari perang, bertemu dengan manusia petani Waya
di Maima. Pertemuan ini merupakan awal dari suatu
hidup sosial bari Wita-Waya sebagai dua belahan/moiety
dengan pelarangan pernikahan intern belahan/moiety
dari apa yang kini menyebut diri suku atau orang
BalimÂ…Â"(sic).

Relasi belahan/Moiety disebut Wita dan Waya serta
merupakan relasi yang cukup luas. Klen suku dalam
masyarakat Balim terbagi dalam kedua belahan Wita-Waya
tersebut. Misalnya belahan Wita terdiri dari suku
Asso, Lagowan, Kosay, Wuka, Lani, Wetipo, Marian,
Mulait, Kuresi. Belahan Waya terdiri dari suku:
Lokobal, Matuan , Heiman, Huby, Hilapok, Wetapo,
Sorabut, Hisage, Doga, Hurukalek.

Relasi antara kedua belahan lebih tampak dalam
perkawinan eksogami dan larangan perkawinan intern
klen dari belahan sama. Relasi belahan tampak juga
dalam penyelenggaraan ritual dan pesta ewe ako/ mawe/
pesta babi sebagai punjak perayaan dalam kehidupan
orang Balim.

5.1. Keluarga Luas Verilokal

Kelompok kekerabatan yang terkecil dalam masyarakat
orang Dani adalah suatu kelompok virilokal. Karena
poligini banyak dilakukan, (Kepala suku Ukumearik Asso
pernah memperisteri 50 wanita dalam hidupnya) dan
karena (umumnya) seorang pria sering beristerikan 4-5
orang (wanita), maka keluarga-keluarga luas orang Dani
tak jarang benar-benar Â`luasÂ'.

5.2. Klen Kecil

Dalam tipologi Koentjaraningrat (1994), yang dimaksud
dengan klen kecil adalah kelompok kekerabatan yang
lebih besar daripada keluarga luas adalah kelompok
yang menganggap dirinya seketurunan seorang nenek
moyang yang jaraknya kurang lebih 4-5 angkatan keatas.
Nama nenek moyang itu biasanya masih diingat, dan
warga kelompok biasanya masih mengenal atau mengetahui
semua keturunan nenek moyang itu, baik yang hidup
maupun yang sidah meninggal.

Orang Dani menyebut kelompok kekerabatan seperti itu
Nyukuloak, (yang arti sebenarnya adalah Â`kepalaÂ',
Â`hulu, Â`asalÂ'), dan istilah ilmiahnya adalah Â`klen
kecilÂ'. Suatu kelompok seperti itu biasanya tersebar
di dalam beberapa perkampungan, tetapi terbatas pada
suatu daerah tertentu. Dalam tradisi Suku Dani
Balim, agaknya kelompok kekerabatan klan ini yang
terpenting dan paling utama.

5.3. Klen Besar

Kelompok kerabat yang lebih besar daripada klen kecil
adalah klen besar (Nyukuluak). Nenek moyang mereka
sudah tidak dikenal lagi, karena jaraknya sudah
terlampau jauh. Para warga kelompok kekerabatan klen
besar hanya mengetahui bahwa mereka adalah warga
Nyukuluak tertentu, karena adat dan kewargaannya juga
diperolehnya secara patrilineal.

Jumlah warga klen besar orang Dani kadang-kadang
beratus-ratus, bahkan beberapa ribu jiwa, yang tinggal
tersebar di daerah yang lebh luas daripada daerah klen
kecil, sehingga para warganya seringkali sudah tidak
saling mengenal. Menurut laporan H. L. Peters (1965),
klen-klen orang Dani tidak menampakkan ciri-ciri
totemisme, yaitu adat untuk berjatidiri dengan lambang
binatang atau tumbuh-tumbuhan, walaupun dalam laporan
Wirz mengenai penduduk Lembah Swart adat itu ada.

Namun sesungguhnya totemisme itu tetap ada di Lembah
Balim Selatan. Dalam clan, adat bahwa marga tertentu
dengan lambang hewan atau burung dan tumbuhan tertentu
sebagai bagian yang tak terpisahkan, bahkan mereka
menganggap bahwa hewan tertentu adalah seketurunan,
karena itu pantangan memakannya atau sekedar membunuh.

5.4. Paroh Masyarakat

Akhirnya perlu kita sebutkan disini suatu bentuk
kelompok kekerabatan orang Dani yang lebih besar lagi,
yaitu kesatuan sosial yang terdiri dari gabungan
berbagai clan, yang dalam bahasa Dani disebut
Nyukuluak Ewe, yaitu Wita dan Waya (sic). Dalam
perhitungan Koentjaraningrat (1994), diseluruh Lembah
Balim ada dari dua Ewe Nyukuluak Wita dan Waya. Dalam
Wita 23 dan Waya 26 buah klen. Namun perhitungan ini
belum menunjukkan keseluruhan penduduk Lembah Balim
yang kenyataannnya sangat banyak dalam keanggotaan
Nyukuluak Ewe, sehingga jumlahnya lebih banyak dari
perhitungan ini.

5. Konfederasi Perang

Seluruh Lembah Balim habis terbagi dalam daerah-daerah
persekutuan perang, semacam negeri-negeri kecil, yang
satu sama lain terpisah oleh daerah-daerah tak
bertuan. Dalam suatu daerah yang lebih luas lagi,
sejumlah pasangan clan kecil sering bergabung menjadi
konferderasi. Konfederasi-konfederasi ini memakai nama
dari pasangan yang membentuk kekuatan. Fungsi dari
konfederasi sebagai ksatuan sosial menyususn kekuatan
dalam menghadapi kekuatan. Konfedearasi adalah suatu
kelompok teritorial yang meliputi suatu wilayah yang
konkret dengan jumlah perkampungan tertentu.

Di Lembah, sebentar saja orang akan menyadaribahwa
perang antar suku didaerah itu dominan di dalam
kehidupan orang Dani, dengan akibat yang dasyat. H.
Myron Bromley, ahli bahasa dari CAMA, memperkirakan
jumlah korban peperangan itu sekitar satu persen dari
seluruh penduduk setiap tahun.

Seorang sosiolog pernah tertegun tatkala dengan
bingung mereka menghadapi pelarangan perang (intern)
suku oleh Pemerintah. Mereka bertanya :Â'Siapa kami
kalau semua yang kami lakukan dinilai salah dan tidak
ada yang benar?Â' Dalam masyarakat ini perang itu
mengikat, Â"Â…bahwa perang didasarkan atas perintah
para leluhur (innappu-innopaneb). Kalau tidak
berperang, akan menimbulkan akibat yang meyusahkan,
seperti panen ketela (ubi/hopuru) yang gagal,
penyakit, dan lain-lain malapetaka.

Orang Balim berperang dengan penuh antusiasme dan
agresif terhadap peraturan-peraturan tertentu,
misalnya berperang tidak untuk memusnahkan musuh. Demi
ekosistem, musuh dianggap penting. Adanya musuh yang
tetap, mirip suatu relasi suami-isteri sehingga dalam
ritus-ritus tertentu yang bermaksud mengalahkan atau
melemahkan semangat juang pihak musuh disebut-sebut
sebagai isteri yang lemah dan suami yang gagah
perkasa.

Dalam kehidupan masyarakat orang Dani, berperang telah
berakar dalam sistem religinya dan merupakan kegiatan
yang suci yang diwajibkan oleh nenek moyang mereka.
Apabila tidak perang, maka segala hal seperti bercocok
tanam, berburu, berdagang, dan sebagainya, akan
mengalami kemunduran.

Perang suku merupakan pusat dari religi dalam
kebudayaan Suku Dani Palim/Balim Jayawi Jaya, tidak
dapat dipisahkan, karena yang sudah berakar dan
berurat dalam kehidupan masyarakatnya. Adalah suatu
kebingungan kini, tatkala agama dan pemerintah datang
membuka keisolasian daerah ini, untuk tujuan dan
maksud baik, dengan serta merta melarang nilai religi
(keagamaan), mereka sebagai salah.

Kemudian timbul pertanyaan Â" Kalau kami tidak boleh
perang, kami ini siapa, jika yang kami hayati sebagai
salah?Â" Kita dituntut kehati-hatian menghadapi Suku
Dani. Mungkin lebih bijaksana pihak luar secara
bijaksana mau mengerti dan melakukan transformasi
social budaya berdasarkan nilai-nilai lokal dengan
kehati-hatian.

6. Kepemimpinan

Kehidupan profan sehari-hari juga terjalin dengan
perang. Wibawa, berikut berbagai hak seperti memiliki
banyak isteri, kebun-kebun dan babi dalam masyarakat
ini diperoleh dengan keberanian dalam
pertempuranÂ"Â…Orang yang berhasil semua itu disebut
kain, yang paling baik dapat diterjemahkan dengan
orang terpandang, atau diperhitungkan. Kain itu lawan
dari kepu, orang tidak penting, orang tidak berharga.
Kain juga diharap suka memberi, ramah, dan tenang.

Ternyata yang sopan itu ialah bahwa orang tidak pernah
menyebut diri sendiri kain, melainkan dengan tersenyum
menyatakan bahwa ia hanya seorang kepu. Budaya Orang
Dani, Baliem Selatan adalah suatu budaya yang
berorientasi pada masa lalu. Orang Dani, Baliem
Selatan senantiasa ingin mewujudkan masa lalu nenek
moyang pada masa kekiniannya. Usaha menghadirkan masa
lalunya dalam konteks kekiniannya adalah suatu usaha
senantiasa dan terus-menerus tanpa henti.

Manusia Baliem Selatan memandang dirinya adalah
manusia sejati (superior). Masing-masing klen
menganggap dirinyalah yang asli tanpa memandang
selainnya inferior (rendah). Karena itu Orang Dani
Baliem Selatan tidak ada sikap ketundukan ataupun
membudak pada orang lain selain dirinya.

Orang Balim cenderung menganggap sesama mereka
memiliki derajat dan martabat yang sama. Pandangan
demikian mempengaruhi penilaiannya terhadap orang yang
datang dari luar kelompok mereka. Orang Balim tidak
membuat klasifikasi ataupun stratifikasi sosial
ataupun menjadikan stratifikasi pemimpin mereka.

Dr. H.L. Peters yang menulis disertasinya mengenai
kebudayaan Balim berjudul Â"Some observation of the
social and religious life of a Dani-GroupÂ" (1975)
dalam salah satu kunjungan selama enam bulan di Balim,
berkesan bahwa Â"biasanya orang Balim mengurus
hidupnya sendiri dengan baik dalam bermacam-macam
situasi.

Mereka menyelenggarakan pesta-pesta raya dan menjamu
ratusan tamu secara tertib. Penampilan asli orang
Balim pada umumnya menunjukkan bahwa mereka tahu harga
diri. Dalam cara hidup mereka tidak tampak sikap
membudak atau menundukkan kepala kepada orang lain
atau siapapun juga. Mereka lebih sering mengambil
inisiatif sendiri dan tidak mengenal struktur-struktur
yang ditata rapi dan harus menantikan perintah dari
atasÂ".

Seorang Kepala Suku adalah orang yang berani dalam
memimpin pertempuran perang suku dan mampu memimpin
warganya dalam keadaan sulit.Sehingga kepemimpinannya
adalah hasil prestasi sendiri. Seorang kepala suku
sebagai pemimpin bukan karena warisan. Karena itu
seorang Pemimpin Suku Dani Baliem Selatan, sebagai
kepala suku, orang besar, jika terdapat hal-hal
berikut : keberanian memimpin perang suku, berani
mengambil keputusan dalam keadaan sulit, kualitas
pembicaraan yang baik/kepandaian berdiplomasi,
bersikap lemah lembut kepada semua orang besar kecil,
dan selalu tahu segala soal.

Tapi keberanian berperang dan ketepatan mengambil
keputusan dalam kesulitan, adalah kepribadian
paripurna (par exelence) seorang pemimpin dalam
tipologi masyarakat suku Dani Baliem Selatan. Seorang
Pemimpin Jayawijaya, Suku Dani Baliem Selatan adalah
seseorang yang memimpin pesta adat di Honay dan
memiliki hubungan yang luas dimasyarakat.

Seorang pemimpin Jayawijaya adalah orang yang tidak
memandang orang lain rendah. Tapi menghormati semua
orang tanpa memadang usia dan jenis kelamin, suku,
marga dan menerima tamu dengan layak. Pemimpin Suku
Dani adalah seseorang yang mengaku dirinya kepu,
(orang biasa) dan dengan warga suku lainnya tidak
merendahkan. Tidak membanggakan dirinya sebagai orang
besar. Tapi dapat bergaul baik dengan semua lapisan
masyarakat. Dapat dimintakan jasanya dan dikunjungi
waktu kapan saja. Memberikan miliknya yang berharga
dan bernilai dimasyarakat.

Hampir semua pemimpin Balim menghendaki agar anak-anak
mereka kelak menjadi pemimpin/Kainc. Anak-anak kainc
lebih berpeluang menjadi kainc, sebab sejak kecil
mereka sudah lebih awal mempelajari dan terlibat dalam
upacara adat yang dipimpin para kainc, yang meliputi
transaksi politik, ekonomi dan sosial budaya yang
dilakukan orang tua mereka.

Dalam masyarakat orang Dani seorang pemimpin adalah
orang yang memiliki kewibawaan dan kekuasaan yang
sangat besar, sehingga ia dijadikan teladan oleh
sebahagian besar warga masyarakatnya. Pergantian
pemimpin tidak dilakukan berdsarkan adat istiadat
resmi, atau pernyataan-pernyataan secara resmiÂ…

Pengangkatan kainc terjadi bukan karena warisan,
tetapi karena (berdasarkan) keterampilan dan kelebihan
serta prestasi yang mesti diekspresikan dalam bentuk
keberanian berperang sebagai pemimpin pasukan, serta
banyaknya membunuh musuh (dalam perang suku antar
konfederasi). Faktor ini juga turut memberi
kepercayaan atau menaikkanÂ'bintangnyaÂ', misalnya
Ukumearik Asso dari Hetigima yang bukan keturunan
kainc, tetapi menjadi kepala suku besar (konfederasi)
karena prestasi yang dicapai selama mengembangkan
kepemimpinan ia masih remaja hingga dewasa ia
senantiasa berani tampil di medan perang.

Tidak ada syarat-syarat resmi untuk menjadi
pemimpin, maka segala hal yang dapat menyebabkan orang
untuk memperoleh pengaruh yang luas dapat kita
masukkan kedalam syarat-syarat untuk menjadi tokoh
kainc dalam masyarakat Dani. Oleh karena itu
kepandaiaan bercocok tanam, berburu, berbicara,
berdiplomasi, sifat ramah, murah hati, dan kekuatan
fisik serta keberaniaan untuk berperang, dapat disebut
sebagai syarat-syarat untuk menjadi pemimpin.

Syarat-syarat lain yang diberikan oleh Stefanus
Ngadimin (1993 : 81), bahwa : Â"Kainc dapat berarti
kuat, cakap, dermawan, pemberani, terhormat, kaya,
baik hati, berwibawa, ataupun berpengaruh. Kainc
diakui setelah ia dapat menunjukkan bukti-bukti
kelebihan dan kemampuannya yang dapat dilihat dan
dirasakan oleh suatu kekuatan yang memaksakan kehendak
terhadap warga masyarakatnyaÂ".

5. Religi

Religi dibedakan dari agama. Religi menekankan bentuk
hubungan dengan obyek diluar diri manusia. Obyek
bersifat polyteis (satu Ilahi Tertinggi diatas ilahi
lain), bersifat lokal dan tidak berdasarkan wahyu
tertulis (intuisi). Sebaliknya agama lebih ditekankan
pada bentuk hubungan satu Ilahi Tertinggi
(moneteisme), bersifat universal dan berdasarkan wahyu
tertulis serta teruji dalam sejarah yang panjang.

Dengan demikian religi menurut konsep orang Balim
adalah religi ketergantungan dengan obyek diluar
dirinya (yang Kuasa, Yang Ilahi, Yang Kudus, Realitas
Mutlak) dan juga relasi denga masyarakat dan
linkungannya (Myron Bromley, 1991:3). Hubungan ini
bersifat dinamis, mengikutsertakan seluruh eksistensi
manusia (pikiran, kehendak, perasaan, nilai-nilai) dan
harus merupakan pikiran nyata serta menyangkut
kebutuhan konkret. Religi bagi masyarakat Balim
merupakan dasar kehidupan yang melanmdasi semua aspek
kehidupan lannya. Dasar kehidupan ini dilambangkan
dengan suatu bentuk nyata yang merupakan tempat
penampilan dari obyek religi yang disebut suken/kaneke
dan tugi. Obyek religi ada dibelkang suken,
hareken/kaneke dan tugi. Oleh sebab itu, hal-hal nyata
tersebut berfungsi sebagai sarana komunikasi.

Konsepsi religi Suku Dani Balim bersifat tertutup dan
rahasia bagi orang lain diluar clan sendiri. Para ahli
yang meneliti tentang religi suku-suku di Fasifik dan
Papua (Jan Buelars; 1987), menunjukkan bahwa
keseluruhan suku bangsa Papua dalam mithologinya
menganggap adanya satu Ilahi tertinggi, (Tuhan?).
Suku Dani Lembah Palim Selatan, mengenal beberapa
tempat asal mula kejadian manusia misalnya Seima, bagi
orang Kurima dan Tangma, Maima bagi orang yang
daerahnya dari Maima, Hitigima, Hepuba, Megapura
(Sinata), Walesi, dan Walaik. Sebahagian mengatakan
bahwa tempat itu adalah Wesagaput, dekat muara sungai
Uwe dan Balim.

Demikian umumnya lokasi dikenal orang-orang Suku Dani
Palim Selatan. Perbedaan hanya dalam soal tempat.
Masing-masing sub-suku juga menganggap bahwa
daerahnyalah yang merupakan tempat asal usul manusia
pertama muncul di Lembah Balim. Kecuali perbedaan
terletak pada lokasi, moeity (marga), klan,
konfederasi dan aliansi perang suku tapi umumnya
mereka mengakui muncul dari dalam goa tanah.

a). Mithology Kejadian Manusia

Â"Awal mula manusia muncul di Wesapot diantara muara
sungai Balim/Palim dan Eagec-ima. Wesapot lokasinya
dekat muara sempit sungai Palim/arus air deras.
Wesapot nama tempat itu, kini ditutupi oleh sungai
Eagec-Ima (Eagenyma). Wesapot, secara bahasa artinya;
"dibalik rahasiaÂ". Terdiri dari dua kata yaitu :
Wesa;
"keramat/rahasia/tabu/tidak boleh". Apot; "dibelakang,
dibalik, tertutup (rahasia)". Jadi Wesapot artinya;
"dibalik rahasia atau dibelakang rahasia dari ada".

Â"Tatkala awal mula manusia muncul dari lubang itu,
clan yang paling pertama keluar menepati dan menguasai
area lokasi daerah ini. Tapi manusia juga tidak
sendirian melainkan keluar dengan membawa serta
beberapa jenis hewan dan tumbuhan dari lubang Goa itu.
Kemudian binatang berbagai rupa yang menakutkan
setelah keluar sesosok manusia tinggi dan besar yang
namanya Naruekut. Karena buruk rupa dan lain maka
lubang itu ditutup kembali untuk selamanya agar
berbagai rupa hewan yang menakutkan tidak lagi
munculÂ".

Â"Mereka keluar tidak membawa makanan, maka
dikorbankanlah seorang kerabat clan sendiri dan untuk
bisa makan. Itulah pembunuhan asal, inilah asal mula
pembunuhan awal itu, perang suku yang selalu menuntut
pembalasan. Ini ada hubungannya dengan istilah tugi
(benda keramat clan), yang tersimpan dalam honai
keramat clan, dari potongan manusia yang dikorbankan.
Dari anggota badan tertentu dari tubuh manusia yang
dikorbankan itu jadilah Ubi jalar (hopuru), kini
menjadi makanan pokok. Potongan-potangan tubuh lainnya
tetap dirawat, dan disimpan hingga kini dalam honai
clan, agar terus diingat, dihayati, untuk akhirnya
dipersembahkan. Bagian-bagian tubuhnya menjadi simbol
hewan tententu misalnya, Walo Palu (Ular Patola), Sue
Hesenah (Burung Nuri Merah), Yeke Helo (Serigala) dan
lain-lainÂ".

Maka itulah misalnya ada pendapat kalau Suku Dani ada
unsur totemisme, seperti laporan dalam peneliatian
Wirz. Mereka percaya bahwa manusia muncul dari tempat
(goa) itu berturut-turut dengan berbagai jenis hewan
dan binatang. Semuanya keluar dari lubang Goa/Wesapot,
(Â"rahasia dibalik dari adaÂ"). Masing-masing clan
keluar dengan membawa simbol-simbol tertentu dari
hewan dan tumbuhan.

Â"Tapi manusia yang paling belakang keluar orangnya
beda. Warna kulit putih, tinggi, karena lain dia
dibunuh dan bagian potongan-potongannya tersimpan di
sejumlah Honai Adat di seluruh Lembah Balim/Palim.
Orang yang dibunuh itu namanya Naruekut. Tempat ini,
Wesapot, kini masih ada sisa-sisa jejak manusia awal
itu. Bukti-bukti berupa simbol tentang jejak sejarah
kejadian manusia mana kini dapat disaksikan berupa
pohon yang digunakannya sebagai tangga untuk naik
kelangit untuk selama-lamanya, honai keramat, dimana
bagian potongan disimpan oleh masing-masing clan
bersama simbol-simbol berupa batu hitamÂ".

Menurut Miron Bromly, simbol Matahari dan Bulan
terkait erat dengan benda sakral yang hinggi kini
disimpan didalam lemari (ka'kok), honai pria. Benda
yang disimpan didalam lemari honai adalah berupa batu
hitam (sejenis batu axe) namanya hareken, juga
tersimpan berupa tugi dan suken. Batu jenis ini pada
masa lalu dapat pula dibentuk menjadi kampak batu
(yage amep), mahar perkawinan dan kematian (ye-eken).
Tapi Ye Eken berbeda dengan Hareken sebagai simbol
kekeramatan yang padanya bergantung segala pandangan
baik-buruk, kesuburan dan satu-satunya benda yang
dihadirkan dan diarahkan dari semua aktivitas hidup
dan kehidupan manusia Baliem.

Istilah teknis su-kepu terdiri dari dua kata benda
su yang berarti noken dan kepu yang berarti roh/orang
abadi (pencipta)b yang bukan roh halus dalam pengertia
dinamisme. Menurut orang Balim di Tangma dan
sekitarnya (Balim/Palim Selatan), su-kepu mempunyai
maksud sakral bagi hubungan sebagai simbol adanya
hubungan manusia dengan penciptanya (walhowak sebagai
modal asli).

Hareken dapat pula disebut dengan nama tugi/tugieken.
Nama ini arti sebernarnya terkait dengan nama manusia
awal. Manusia awal yang dianggap sebagai "Tuhan" dalam
religi manusia Baliem Selatan itu adalah asal nenek
moyang yang telah pergi naik kelangit. Manusia asal
itu kini menjadi matahari dan menerangi manusia di
bumi. Maka matahari ada hubungannya dengan benda
keramat yang disimpan di Honay keramat pria. Honay
tempat dimana terdapat benda Tugi atau Hareken
dinamakan dengan kanekala atau tugiaila.

Hareken terdiri dari dua kata, secara etimology,
har/hat berarti : Â"Engkau/TuhanÂ", dan Eken berarti :
Â"Inti/terpusatÂ". Jadi hareken secara harfiah
pengertiannya adalah "Inti dari EngkauÂ". Hareken
secara terminologi berarti: Inti dari Engkau Yang Maha
Hadir/Ada. H Myron Bromley, menerjemahkan pengertian
Hareken/Tugi-Eken sama dengan pengertian Wesapot,
"dibelakang rahasia". Jadi, "dibelakang dari ada"
atau Hareken adalah "rahasia dari ada". Hal ini dapat
di ungkapkan dengan kalimat dalam bahasa Baliem
Selatan sebagai berikut : Yimeke Timeke Timeke Ero
Pakiat Atukenen, artinya: Â"Sumber segala sumber
berasalÂ". Maka Kaneka atau Tugi-Eken, adalah yang
dimaksudkan dengan "sumber segala sumber segala
sesuatu berasal".

Pandangan demikian didapati dalam religi Suku Dani
Baliem Selatan. Ketika awal mula manusia muncul dimuka
bumi, di daerah Wesapot/Maima, (daerah ini bagian dari
Kecamatan Hitigima, (12 km2 dari kota Wamena arah
Selatan). Menurut clan Asso yang dianggap Tuan Tanah,
didaerah Wesapot, lokasi sesungguhnya manusia pertama
keluar, adalah tempatnya persis dimuara sungai
Eagec-Ima. Kerahasiaan tempat dan lokasi ini
pantangan untuk diketahui lain clan-nya, sebagaimana
diakui Astrid S. Susanto-Sunario (1993), yaitu adat
masyarakat Baliem atau Parim, sebenarnya dirahasiakan
terhadap orang luar dan jelas tidak boleh diketahui
oleh warga perempuan (Parim) , juga termasuk sesama
warga Suku Dani Baliem yang bukan clan murni
geneologis sendiri yang bersifat patrilineal
pantangan disampaikan.

Dari informasi beberapa orang kepala suku yang
berpandangan luas dari clan Asso dari moiety
Asso-Wetipo, menunjukkan bahwa yang menerima mandat
dan memelihara tempat-tempat keramat itu adalah moiety
Asso-Wetipo di Wesapot. Namun clan yang disubut
pertama lebih banyak penulis dapatkan ceritera tentang
mithologi asal muasal kejadian manusia Palim.

Beberapa kepala suku dari Assotipo, menuturkan bahwa
manusia pertama keluar dari dalam Goa, persis di muara
sungai Eagec. Tempat itu kini sejak semula ditutupi
dan dialiri oleh sungai Eagec. Sungai Eagec,
Â"dipanggilÂ" oleh manusia pertama. Manusia pertama
adalah orang yang muncul atau keluar dari lubang dalam
Goa. Karena malu dia memanggil sungai Eagec agar
mengaliri (menutupi), Goa tempat dimana manusia
pertama muncul. Ditempat itu asal muasal manusia
keluar dan kini tersebar seluruh dipermukaan bumi.
Ada kesan penulis bahwa sejarah konsepsi manusia
Jawaijaya penuh dengan perlambangan, termasuk ceritera
mythology asal kejadian manusia Suku Dani Lembah
Paliem Selatan ini.

B. Perkawinan

1. Tujuaan Perkawinan

Dalam perkawinan Balim (He Yokal) perhatian
dititikberatkan kepada wanita. Wanita dihormati
sebagai sumber kesuburan, ia menyimpan misteri yang
tak terselami oleh kaum pria. Seorang gadis melepaskan
busana gadisnya dan diganti dengan busana ibu/yokal
merupakan lambang pengakuan keibuan seorang perempuan
sebagai sumber kesuburan keluarga dan masyarakat.
Pergaulan antara muda-mudi yang menginjak remaja
besifat bebas, dan tidak dibatasi aturan-aturan adat.

Seorang pemuda memilih calon isterinya sendiri,
walaupun menurut adat Dani ia harus menaati dua
syarat, yaitu bahwa gadis ituharus berasal dari
clan-clan seperti Wamu, Asso, Itlay, dan 19 clan lain,
karena semua clan itu termasuk paroh Wita .
Sebaliknya, disamping clan-clan itu masih ada 26 clan
lain yang menjadi anggota paroh Waya, dan dari
clan-clan itulah ia dapat memilih jodohnya.

Masyarakat Dani memiliki pandangan tersendiri tentang
kapan seorang gadis dan seorang pemuda dinyatakan
telah siap kawin. Tanda tersebut mengacu pada
perkembangan fisik dan kesiapan dalam bekerja, antara
lain: seorang gadis siap kawin bila telah keluar susu
(payudara telah membesar), telah bisa menanam ubi,
telah bisa memasak, telah bisa memberi makan babi dan
ada juga yang mengungkapkan telah mendapat menstruasi
(Bahasa Balim: mep). Untuk laki-laki: sudah keluar
kumis dan jenggot, telah bisa mempersiapkan kebun
serta memiliki babi.

Bagi Masyarakat Dani, perkawinan adalah ikatan di
antara seorang laki-laki dengan perempuan untuk
menjadi suami istri. Ikatan dalam perkawinan tersebut
bersifat sosial, karena seluruh anggota keluarga besar
ikut terlibat, termasuk di dalamnya menyangkut
berbagai hak dan kewajiban. Orang-orang tua
mengatakan, perkawinan dalam masyarakat Dani ini bukan
perkawinan individu, tetapi kawin dengan seluruh
anggota famili, tanggung jawabnya luas. Sehingga
lestari tidaknya hubungan perkawinan tersebut bukan
hanya menjadi tanggung jawab si istri ataupun si suami
saja, tetapi tanggung jawab seluruh kerabat.

Tentang tujuan perkawinan, masyarakat terutama kaum
tua-tua mengatakan bahwa,tujuan perkawinan adalah
untuk mengatur agar kehidupan baik: mendapat keturunan
agar hidup terus berlanjut dan mengembangkan relasi.
Jadi tujuan perkawinan bukan semata-mata untuk seks.
Orang-orang tua juga mengungkapkan bahwa kebanyakan
anak muda jaman sekarang ini kawin lebih untuk nafsu
dan tidak menjaga perkawinan baik-baik, contohnya
laki-laki tidak bertanggungjawab pada isterinya, suka
jalan ke sana ke mari, pemalas kerja dan tidak bisa
jamin istri dengan baik. Begitu juga dengan
perempuannya, cantik tetapi tidak urus kebun, tidak
urus babi dengan baik dan ada juga yang pendirian
tidak tetap, akhirnya bisa lihat kiri kanan, tidak
lihat suaminya saja. Bagi kaum muda sendiri, mereka
mengartikan perkawinan sebagai ikatan antara perempuan
dan laki-laki untuk mendapatkan keturunan.

Tujuan utama perkawinan bagi Suku Dani Balim/Palim
Selatan adalah untuk mendapatkan keturunan dan
melestarikan tradisi yang terkait erat dengan nilai
relasi yaitu relasi yang dinamis dengan manusia,
dengan alam sekitar dan dengan leluhur. Relasi yang
harmonis memungknkan manusia Balim menyadari landasan
pijaknya, dimana ia kini berada dan kemana hendak
mengacu.

Untuk melestarikan tradisi, yaitu demi keberlangsungan
pemeliharaan nama clan dalam moiety. Oleh sebab itu
hubungan pasangan adat diatur secara rapi dan dalam
pemilihan perjodohan harus diutamakan misalnya clan
Asso dan Yelipele. Dalam konfederasi
Asso-Yelipele/Assolipele terdiri dari moiety Asso dan
Yelipele. Secara umum seseorang dikenal sebagai
anggota dari kelompok konfederasi Assolipele, namun
sejatinya clan Asso yang mana asli dan periferal
diketahui dan diutamakan perjodohannya. Tujuannya
adalah survival konfederasi dari kedua moiety dan clan
pasangan.

2. Jenis Perkawinan

Jenis perkawinan bagi masyarakat Dani, ada dua macam
yaitu: perkawinan monogami dan perkawinan poligami.
Adapun bentuk perkawinan ada beberapa macam yaitu:
perkawinan antara bujang dengan bujang, laki-laki
bujang dengan janda atau sebaliknya, laki-laki
berkeluarga dengan perempuan bujang, laki-laki bujang
dengan isteri orang.

Apabila seorang pemuda ingin menikah dengan seorang
gadis, maka orang tua kedua puhak mulai saling
selidik-menyelidiki. Maksud untuk mengawini seorang
gadis biasanya diawali dengan pemberian daging babi
kepada ibu di gadis, yang dibalas dengan pemberian ubi
manis apabila pihaknya menyetujuinya. Berdasarkan
perkembangan ini orang tua si pemuda mulai melamar
secara resmi, yang tidak dilakukannya kepada orang
tuanya, melainkan kepada saudara pria si gadis.

Proses perkawinan, bagi perempuan bujang dengan
laki-laki bujang dilakukan melalui proses (acara)
peminangan, namun untuk kawin 'bawa lari' (misalnya
laki-laki bawa lari isteri orang atau perempuan
bersuami lari dengan laki-laki lain) tidak melalui
proses peminangan tetapi hanya melalui kontak antara
keluarga laki-laki dan perempuan saja. Setelah
peminangan diadakan pesta kawin sebagai puncak acara.

Suatu upacara perkawinan, seperti halnya upacara,
inisiasi, biasanya diadakan bersamaan dengan pesta
babi (Wam Mawe). Karena itu dalam masyarakat Dani
pasangan-pasangan yang menikah biasanya melangsungkan
upacara-upacara perkawinan pada saat yang sama. Pada
pesta babi yang diselenggarakan oleh gabungan
(konfederasi) Siep-Kosi dan Itlay-Haluk dalam bulan
januari 1963 misalnya, dikawinkan sebanyak 27
pasangan, yang terdiri dari 18 perkawinan antara gadis
dengan perjaka, dan 9 perkawinan antara gadis dengan
pria yang sudah beristeri satu atau lebih. Gadis-gadis
yang dikawinkan itu berumur antara 12 dan 18 tahun.

Rangkaian acara adat perkawinan yang dilakukan lebih
ditujukan untuk pengantin perempuan daripada
laki-laki. Hal ini ada beberapa alasan yang
dikemukakan oleh tua-tua adat tentang pandangan
mengenai peremuan, dalam uangkapan sebagai berikut:

"...Perempuan adalah 'apusu' (sumber kesuburan) dan
kemakmuran, karena perempuan itulah maka pada jaman
dulu bisa timbul perang suku, honai adat bisa pecah
bila ada yang mengganggu isteri orang lain..."
"...Kehebatan dan kebesaran nama laki-laki maupun
honai adat terletak pada perempuan, karena hanya
perempuan yang bisa pelihara babi banyak dan besar,
yang dipakai oleh laki-laki dalam pesta adat maupun
bayar mas kawin..."
"...Perempuan keluar dari orang tuanya untuk membagi
kesuburan dan kemakmuran kepada warga lain, maka
perempuan adalah juga sebagai pemersatu, jembatan dan
pendamai antara warga bahkan antara suku yang saling
berperang..."
"...Secara fisik perempuan itu lemah, tetapi semangat
dan hatinya cukup kuat, mereka bisa menjatuhkan kepala
suku yang ditakuti dalam peperangan..."
"...Perempuan melahirkan, memberi air susu kepada
manusia. Perempuan menerima cairan (sperma) dari
laki-laki dan mengolah dalam rahimnya hingga menjadi
manusia..."

Upacara perkawinan biasanya dilakukan didesa tempat
terdapat batu kaneke, yaitu pusat keramat clan, dan
tempat sebahagian besar calon pengantin berasal.
Â…Â"Unsur penting dalam upacara perkawinan orang Dani
adalah Yokal Isin (he yokal), atau upacara memakaikan
yokal (pakaian untuk wanita yang sudah menikah) pada
mempelai wanita, upacara merias dengan
perhiasan-perhiasan kerang, manik-manik, Â…Â"sebelum
ia
secara resmi dipertemukan dengan calon suaminya. Unsur
penting lainnya adalah penjemputan mempelai wanita
oleh mempelai pria, yang diiringi suatu rombongan
menuju kerumahnya sendiri, upacara makan daging babi
bersama, yang dilakukan oleh kedua pengantin didesa
pengantin pria, dan (sebelum) masuknya kedua mempelai
ke dalam rumah (eweai) untuk tidur bersama.

Sebelumnya, baik sementara upacara-upacara
berlangsung, maupun sesudahnya, para kerabat, teman
dan tamu-tamu membagi-bagikan daging babi sesuai
dengan adat sopan santun yang berlaku. Setelah itu
mereka berpestapora dengan makan, minum, menyanyi, dan
menari, yang berlangsung sekitar 10 hari.

Ada kalanya suatu upacara dan pesta perkawinan tidak
digabung dengan pesta ewe ako atau wam mawe, tapi
dilakukan dengan tujuan yang diniatkan perkawinan
secara khusus apabila usia seorang gadis sudah cukup
umur untuk dinikahkan atau seorang pria sudah saatnya
dikawinkan setelah dicarikan seorang gadis yang pantas
dikawinkan. Upacara ini dapat diselenggarakan bila
yang maksudkan untuk menikahkan adalah seorang remaja
pria maka upacara diadakan dirumah honai clan
pengantin pria. Sebaliknya seorang gadis yang
dianggap sudah mulai pantas dikawinkan maka upacara
pesta perkawinan sepenuhnya diselenggarakan oleh
kerabat clan gadis di perkampungan yang ada honai
keramat clannya si gadis.

Dalam ikatan perkawinan, laki-laki berkewajiban
membayar mas kawin kepada keluarga perempuan berupa
babi. Pada jaman dulu, jumlah mas kawin tidak terbatas
tergantung kemampuan pihak pria dan dapat dibayarkan
beberapa tahap, bahkan untuk laki-laki yang belum
mempunyai cukup banyak babi dapat membayarnya setelah
mereka menjadi suami isteri, namun pembayaran tersebut
harus dilengkapi. Bila pembayaran mas kawin tidak
lengkap maka menurut kepercayaan mereka ada terjadi
gangguan-gangguan dalam kehidupan mereka, seperti
ungkapan beberapa responden sebagai berikut:

"Kalau laki-laki tidak membayar babi lengkap maka dia
bisa kena sakit..."
"Kalau suami tidak bayar babi, isteri bisa mandul,
tidak punya anak, nanti perempuan punya om-om bisa
merontak....."
"Kalau suami tidak bayar babi isteri bisa kesusahan
waktu melahirkan..."

Mas Kawin tersebut diterima oleh om-om (paman/adik
atau kakak mama pengantin perempuan). Om-om memiliki
kedudukan yang sangat penting dalam kehidupan suami
isteri ini beserta keturunannya.

Bahkan ada seorang tokoh gereja yang mengungkapkan
bahwa, bila ada anak perempuan yang disekolahkan oleh
orang tuanya, pada saat anak tersebut telah mencapi
usia kawin, maka orang tua akan membayar babi pada
om-om tersebut yang seharusnya diterima pada upacara
mawe (pesta raya babi). Kalau orang tua anak perempuan
ini tidak memberikan babi maka om tersebut akan tuntut
(istilah yang sering dipakai: merontak).

Selain pembayaran di atas, pihak suami juga
berkewajiban memberikan bantuan berupa babi dan
sumbangan/jasa lain kepada keluarga istri bila terjadi
musibah ataupun kebutuhan-kebutuhan lain. Menurut
ungkapan mereka, pembayaran-pembayaran ini bukan
merupakan beban yang dipaksakan tetapi merupakan
kewajiban dan tanggungjawab suami terhadap pihak
isteri dan keluarganya.

Menurut anggapan masyarakat orang akan merasakan
ketimpangan dalam hidup bila tidak pernah memberikan
bantuan berupa babi kepada famili isterinya. Bila
terjadi peristiwa, di mana isteri lari kepada
laki-laki lain, maka seluruh mas kawin dan
sumbangan-sumbangan yang pernah diterima harus
dikembalikan lagi.

C. Wamena Dalam Dinamika Perubahan

Modernisasi pada dirinya mengandung pengertian
pembaharuan yang meliputi seluruh aspek kehidupan,
pergantian cara poduksi, pikiran dan perasaan yang
mengarah kepada hal-hal yang baru:
nilai-nilai/norma-norma sosial, pola-pola perilaku,
organisasi, lembaga-lembaga kemasyarakatan,
lapisan-lapisan dalam masyarakat, kekuasaan dan
wewenang serta interaksi sosial dan seterusnya untuk
suatu kehidupann yang lebih baik dan lebih layak.

Modernisasi merupakan proses sistematik. Modernisasi
melibatkan perubahan pada hampir segala aspek tingkah
laku sosial, termasuk didalamnya industrialisasi,
urbanisasi, sekularisasi, sentralisasi dan sebagainya.
Dalam rangka mencapai status modern, struktur dan
nilai-nilai tradisional secara total harus diganti
dengan seperangkat sruktur dan nilai-nilai modern.
Untuk hal ini, Huntington, menyatakan, bahwa teori
modernisasi melihat Â`modernÂ' dan Â`tradisionalÂ'
sebagai dua konsep yang pada dasarnya bertentangan
(asimetris).

Karena itu ahli sejarah dunia Marshall Hodgson lebih
cenderung tidak menamakan zaman mutakhir umat manusia
yang dikuasai oleh ilmu pengetahuan dan teknologi ini
sebagai Â`ZamanÂ' ModernÂ'-karena konotasi perkataan
Â`modernÂ' yang selalu positif- melainkan Â`Zaman
TeknikÂ' (Teknik Age) dengan konotasi yang netral,
dapat baik dan dapat pula buruk. Karena kenetralan
Â`Zaman TeknikÂ' itu maka peran etika amat penting.

Bahkan Roger Garaudy (Muallaf, nama syahadatnya,
Muhammad Nuruddin), menyebut zaman teknik sebagai
Â`agama pirantiÂ' ; Yakni suatu zaman yang didominasi
oleh piranti, teknik atau instrumen, dan sedikit
sekali menjawab apa sebenarnya tujuan intrinsik dari
semua itu. Piranti, teknik, dan instrumen menjadi
tujuan dalam dirinya sendiri sehingga menguasai hidup
manusia dan menjadi agama baru.

Sampai bulan April 1954, waktu beberapa orang pendeta
Nasrani dari Amerika Serikat dari organasasi penyiaran
agama Cristian and Missionary Alliance (disingkat
CAMA) tiba, orang Palim masih hdup terpencil dari
dunia luar. Mereka pada waktu itu masih menggunakan
alat batu yang sama bentuknya seperti oleh para ahli
prasejarah diperkirakan berasal dari kala Neolitik,
sehingga mereka seakan-akan masih berada dalam Zaman
Batu Neolitik. Para pendeta itu kemudian beberapa
pusat penyiaran agama di bagian selatan Lembah Balim
di daerah konfederasi Asso-Lokobal/Asso-Wetipo (sic).

Dengan kehadiran para pendeta itu sebahagian orang
Dani tiba-tiba dihadapkan pada dunia luar yang
diwakili orang-orang bule, yang cara hdupnya
dilengkapi peralatan yang serba modern, dari yang
berukuran kecil yang dipakai sehari-hari, sampai
pesawat terbang, yang mereka gunakan sebagai alat
transportasi untuk keluar masuk daerah Lembah Balim.

Kontak dengan dunia luar menjadi lebih merata ketika
pemerintah Belanda dalam tahun 1956 mendirikan pos
pemerintah di Wamena, yang dilengkapi dengan lapangan
terbang yang dapat didarati pesawat-pesawat sebesar
Dakota dan ketika organisasi penyiaran agama Katolik
Minnebriders Fransiskanan membuka pusat kegiatannya
di Wamena dua tahun kemudian.

Sebagaimana dikemukakan sebelumnya bahwa kontak awal
suku Dani di Balim terjadi pada tahun 1926, dengan
kedatangan expedisi ilmiah Steerling. Proses
modernisasi pada masyarakat Balim telah terjadi
menurut tahapan kurun waktu, sebagai berikut :

1). Masa kontak expedisi Steerling pada tahun 1926;

2). Masa kontak budaya pada tahun 1954-1962.

Kontak modernisasi disini lebih pada budaya material
(kapak, pembukaan pos-pos pemerintah/missi serta
pembukaan jalan-jalan raya (zaman pemerintahan
kolonial Belanda).

3). Masa integrasi pada tahun 1963-1969.
Pada masa ini Suku Dani terintegrasi kedalam negara RI
melalui Penpres 1 tahun 1963 dan pada tanggal 16
September 1969 dengan peristiwa Pepera.

4). Masa awal pembangunan pada tahun 1970-1974.
Pada masa ini pembangunan belum banyak tampak, banyak
sekolah dibuka, komunikasi cukup lancar, perumahan
dikota Wamena makin bertambah, pos-pos di kecamatan
dan jalan-jalan raya dibangun, rumah sakit dan
seterusnya.

5). Masa Adaptasi pada tahun 1975-1981 Pada masa ini
banyak pendekatan pembangunan dilakukan sebagai
adaptasi sosial-budaya, Pemerintah Desa dibentuk
menurut UU Mendagri No. 5 Thn 1974, kursus pelopor
pembangunan desa dibuka (KPPD) sebagai tempat
pengkaderan dari wakil tiap desa yang dibentuk. Proses
pembangunan diterima baik dalam bernahasa Indonesia
yang baik dan banyak hal mengalami penyesuaian dan
perubahan.

6). Masa transisi pada tahun 1982- sampai sekarang
Sebgaimana pada umumnya daerah Pegunungan Tengah
Papua, dalam tahun 1980-1990 awal, Suku Dani, banyak
di jumpai kaum prianya mengenakan busana Koteka dan
rumbai bagi wanitanya. Dikota kini tidak banyak
dijumpai, namun daerah-daerah yang masih terisolasi
dan jauh dari pusat pemerintahan banyak terdapat
penduduknya yang masih mengenakan Koteka sebagai
lambang ketertinggalan dan keterbelakangan.

Usaha moderinisasi baru dilakukan oleh oleh aparat
militer Indonesia seperti dalam operasi task force
oleh Gubernur Aqub Zaenal pada tahun 1970-an awal.
Tapi dalam pengertian sesungguhnya usaha modernisasi
dilakukan oleh Missionaris dan pemerintah Indonesia.

1. Agama

Pada mulanya Missionaris Kristen dari Amerika dan
Katolik dari Belanda mengajak suku Dani Palim/Balim
dari Konfederasi Asso-Lokowal dan Asso-Wetipo, untuk
menganut agama yang mereka bawa. Suku Dani Balim
Selatan walaupun pada awalnya menerima kehadiran orang
Barat, tapi sikapnya agak takut-takut, karena menurut
mereka orang Barat persis Mokat (setan), yaitu arwah
orang Dani yang telah meninggal ,
dan muncul kembali semacam reinkarnasi.

Orang Lembah Balim mulai mendengar injil yang
disampaikan beberapa orang utusan injil CAMA dan
beberapa orang Me yang datang kesana dalam bulan April
1954. Salah satu utusan injil orang Me yang pertama
pergi ke Balim mengabarkan injil di Balim ialah :
Elisa Gobay.

Missi agama yang pertama muncul Lembah Balim, Wamena
Kabupaten Jayawi Jaya tempatnya di Hitigima, di daerah
Konfederasi Asso-Lokobal/Asso-Wetipo, pada bulan April
tahun 1954, oleh beberapa pendeta Nasrani (Kristen
Protestan)dari Amerika Serikat dari Organisasi
penyiaran Agama Cristian and Missionary Alliance
(CAMA). Kemudian disusul organisasi penyiaran agama
Katolik Minnebroeders Franciscanen membuka pusat
kegiatannya di Wamena atau Woma di wilayah konfederasi
Lagowan-Matuan dua tahun 1956 dan di Hebupa distrik
Asso-Lokobal.

Mula-mula kehadiran dua agama besar yang dibawah
pertama oleh para Missionarisnya tidak menarik
perhatian Suku Dani Lembah Balim Selatan. Sampai
dengan tahun 1970-an tidak satupun penduduk pribumi
memeluk agama. Bahkan sikap mereka menolak
habis-habisan.

Orang Balim menurut Dr. Benny Giay, (1998), tidak
serta merta menerima agama Kristen yang di bawa utusan
injil. Â"Berbeda dengan orang Dani Barat, orang Dani
di Lembah Balim menolak injil selama bertahun-tahun.
Penerimaan Injil di Lembah Balim tidak terjadi secara
cepat, tetapi bertahap. Baru akhir tahun 1970-an orang
Dani Lembah Balim mulai menerima kabar gembiraÂ".

Dan terakhir pada masa integrasi Papua kedalam negara
RI, bersamaan itupula agama Islam di perkenalkan
kepada Suku Dani di Lembah Balim tepatnya di daerah
Megapura antara tahun 1963-1969 di wilayah Konfederasi
antara Asso-Lokobal, Wuka-Wetapo dan Lani-Wetapo.

Pengaruh Islam secara luas diseluruh pelosok daerah
propinsi Irian Jaya dan dengan semua kelompok suku di
daerah ini dalam hidup sehari-hari dalam semua bidang
kehidupan, baru mulai dirasakan setelah Irian Jaya
berintegrasi menjadi bagian dari Republik Indonesia
awal tahun 1960-an.

Pada umumnya Suku Dani hingga dewasa ini masih
menghayati nilai-nilai lama mereka sebagai agama.
Animisme cukup dominan saat-saat ini hingga tahun yang
akan datang ini, mengingat sangat lambatnya proses
modernisasi atau transpormasi nilai-nilai baru,
terutama pembangunan oleh pemerintah dan perubahan
oleh semua pihak.

2. Pendidikan

Pada awalnya orang tua kalangan suku Dani Asso-Wetipo
dan Asso-Lokowal menolak menyekolahkan anak-anak
mereka di sekolah yang disediakan oleh para missioris,
hal demikian dihadapi oleh perintah Indonesia pasca
integrasi. Dalam hal pendidikan maupun agama, pada
mulanya para kepala suku menolak ajaran agama maupun
menolak anaknya untuk disekolahkan.

Lembaga pendidikan atau sekolah-sekolah yang dibangun
para missionaris Barat dan Pemerintah Indonesia tidak
menarik minat Suku Dani di Balim Selatan. Namun secara
bertahap baru ada anak Suku Dani mulai dididik dan
sekaligus di Baptis. Putra Balim yang telah menjadi
sarjana dan sarjana muda antara lain adalah David
Huby, Simeon Itlay, Benny Hilapok, Agus Alua, Bartol
Paragaye, Bonafasius Huby, Alpius Wetipo, Tobias
Itlay, Damianus Wetapo, Dominicus Lokobal, Benny Huby,
Vincent, Jelela Wetipo, Tadius Mulait dan lain-lain.

Saat ini deretan intelektual pertama Papua adalah
hasil godokan para missionaris, misalnya; Benny Giay,
Sofyan Nyoman, (Protestan), Agus Alue Alua, David Huby
[Bupati Kab. Jayawi Jaya, tahun 1999-1996], Niko
Asso-Lokowal (Katolik).


D. Islam

1. Perkenalan Pertama

Dalam berbagai laporan para ahli dan seminar-seminar
menunjukkan bahwa sebelum agama-agama besar lainnya
datang ke Papua Islam sudah lebih awal masuk ke Papua.
Sebagaimana hal ini di laporkan seorang antropolog
Papua Dr. J. R. Mansoben (1997) : Â`Agama besar
pertama
yang masuk ke Irian Jaya (Papua) adalah Islam. Agama
Islam masuk di Irian Jaya yaitu didaerah Kepulauan
Raja Ampat dan daerah Fak-Fak berasal dari Kepulauan
Maluku dan disebarkan melalui hubungan perdagangan
yang terjadi diantara kedua daerah tersebutÂ'. Menurut
Van der Leeder (1980, 22), agama Islam masuk di
kepulauan Raja Ampat pengaruh dari kesultanan Tidore
tidak lama sesudah agama tersebut masuk di Maluku
pada abad ke 13.

Maka tidaklah mengherankan bila, Â`kedatangan
Missionaris Kristen pertama justeru diantar oleh
Muballiqh Islam dari Kerajaan Tidore pada tanggal 5
Pebruari 1855 disebuah Pulau Kecil Mansinam
diperaiaran Manokwari. Dua Missionaris dari Jerman itu
adalah C. W. Ottow dan G. J. GeisslerÂ'.

Pengaruh Islam secara luas diseluruh pelosok daerah
Propinsi Irian Jaya dan dengan semua kelompok suku di
daerah ini dalam hidup sehari-hari dalam semua bidang
kehidupan, baru mulai dirasakan setelah Irian Jaya
berintegrasi menjadi bagian dari Republik Indonesia
awal tahun 1060-an.

Dalam akhir tahun 1960-an akhir di kota Wamena datang
penduduk transmigrasi dari Jawa dan para perantau
(urban asal Indonesia Timur, terutama orang Bugis,
Buton, Makasar dan Madura atau Jawa Timur. Perkenalan
agama Islam Suku Dani di Wamena dalam masa ini melalui
interaksi sosial dan perdagangan antara para pendatang
dan penduduk asli.

Dengan demikian, maka interaksi Agama Islam dikalangan
Suku Dani Jayawi Jaya, terjadi pasca integrasi dengan
Indonesia pada dekade 1960-an, melalui guru-guru dan
transmigran dari Pulau Jawa di daerah Megapura
(Sinata).

Kemudian secara lebih intensif melalui para urban dari
Indonesia Timur, Suku Dani Palim Tengah dan Palim
Selatan dari Moiety : Asso-Lokowal Asso-Wetipo,
Lani-Wetapo, Wuka-wetapo, Wuka-Hubi, Lagowan-Matuan
dan Walesi, memeluk agama Islam. Dari sejumlah saksi
mengatakan bahwa Esogalib Lokowal adalah orang paling
pertama dari Palim Selatan yang masuk agama Islam.

Kemudian Harun Asso (dari Hitigima/Wesapot), Yasa Asso
(dari Hepuba/Wiaima), Horopalek Lokowal, Musa Asso
(dari Megapura/Sinata), Donatus Lani (dari Lanitapo).
Dalam tahun 1960-an akhir didaerah Megapura,
Hitigima/Wesapot, Hepuba, Woma, Pugima dan Walesi
(kini di Walesi clan Asso-Yelipele seluruh warganya
100% beragama Islam) adalah daerah pertama yang
berinteraksi dengan Orang Muslim dari berbagai daerah
Nusantara.

Muhammad Ali Wetipo, misalnya; dari konfederasi
Asso-Lokowal dari daerah Hepuba masuk Agama Islam
melalui orang Pendatang di Kota Wamena dalam tahun
1967 dan datang sekolah di Panti Asuhan Muhammadiyyah
AB-Pura Jayapura.

Demikian sama halnya dengan Ilham Walelo dan Abdul
MuÂ'in Itlay dari Pugima, dalam tahun 1969 mereka
sekolah di Panti Asuhan Muhammadiyah, AB-pura Jayapura
sampai tamat dari sekolah ini dalam tahun 1979,
kemudian melanjutkan studynya di IAIN Jakarta (kini
UIN).

a. Muslim Walesi

Berbeda dengan daerah lain di Lembah Balim, di Walesi
Pada tahun 1975 Merasugun Asso, Firdaus Asso dan
Muhammad Ali Asso, adalah generasi pertama yang paling
awal masuk islam dan mengembangkannya menjadi besar
sampai dewasa ini. Karena diikuti oleh semua kalangan
pemuda dari Konfederasi Asso-Yelipele Walesi misalnya;
Nyasuok Asso, Walekmeke Asso, Nyapalogo Kuan, Wurusugi
Lani, Heletok Yelipele, Aropeimake Yaleget, dan Udin
Asso, sehingga memiliki pengaruh sangat besar
eksistensi Islam dan Muslim Jayawi Jaya hingga kini.

Kegiatan organisasi khusus yang melakukan daÂ'wah
islamiyyah kala itu belum ada di Lembah Balim Jayawi
Jaya. Setelah orang-orang dari Walesi masuk Islam
tahun 1975 secara serentak dalam jumlah besar mulai
diorganisir oleh Islamic Centre.

b. Kisah Islam Merasugun dari Walesi

Yang paling awal memeluk agama Islam dan
memperjuangkankannya menjadi besar adalah Merasun Asso
(berikutnya hanya ditulis Merasugun). Konon kisahnya;
melalui hubungan perdagangan. Merasugun yang kala itu
ingin mencari kayu bakar di hutan untuk ditukarkan
dengan nasi.

Merasugun kemudian mengajak dua anak muda yaitu
Firdaus Asso dan Ali Asso dari kampung Walesi,6 km
arah selatan dari Kota Wamena dalam tahun 1975.
Merasugun kira-kira berusia 45 tahun dan dua anak muda
yakni Firdaus Asso,dan Muhammad Ali Asso, keduanya
kira-kira berusia 15 tahun kala itu, adalah generasi
pertama yang mula-mula masuk Islam serta mengembangkan
Islam di Walesi.

Selanjutnya Merasugun, Firdaus Asso dan Ali Asso,
membawa kayu bakar untuk barter dengan nasi kepada
seorang pendatang asal Madura (konon saat itu anggota
Dewan Tk. II Jayawijaya), yang sebelumnya sudah
berkenalan dengan Merasugun. Dari pertama pertemuan
hingga pertemuan ketiga mereka sudah saling akrab.
Kedatangan Merasugun dan dua anak muda kali ketiga,
persis waktu shalat dhuhur tiba. Maka mereka disuruh
tunggu sebentar karena pembeli kayu yang beragama
Islam itu ingin shalat dahulu.

Merasugun memperhatikan apa yang dilakukan kenalannya.
Pembeli kayu itu melakukan gerakan yang sebelumnya
asing bagi Merasugun yaitu sholat dan berdoÂ'a dengan
gerakan khusyuÂ'. Merasugun bergumam dengan perasaan
agak keheranan, kepada dua anak muda yang
mendapinginya dalam bahasa Balim berkomentar demikian
: Â"O..oh.yire esilam mekeÂ"!, artinya Â"Oh, ini orang
Islam"!

Dikampungnya Merasugun sebelumnya pernah mendengar
kabar bahwa Islam, agama yang tidak boleh makan daging
babi, (satu-satunya hewan ternak paling
utama di Lembah Balim). Bahkan Merasugun dengar issu
bahwa orang-orang pendatang Muslim, akan musnah
semua babi di Lembah Balim, (dalam agama Islam,
memakan gading Babi hukumnya diharamkan /tidak boleh).

Walaupun sebelumnnya isu bahaya agama Islam sering
didengar, Merasugun menyuruh Firdaus Asso dan Ali Asso
masuk agama islam, dan belajar melakukan "misa IslamÂ"
, (maksudnya sholat). Karena menurutnya orang Muslim
Madura itu baik, tidak seperti diisukan orang-orang
dikampungnya. Karena itu Merasugun menyuruh, dua anak
muda itu masuk Islam dan belajar Â"misa Islam". Lalu
katanya; Â"Kalian boleh masuk Agama Islam karena orang
ini baikÂ"! Keinginan dan usulan Merasugun disetujui
dua anak yang masih keponakannya itu.

Keinginan dan usul Merasugun diterjemahkan dan
disampaikan oleh Firdaus Asso dan mereka bertiga
bertekad mau masuk Agama Islam, tapi orang Madura itu
keberatan karena alasannya takut ada tuduhan
islamisasi. Tapi kekhawatiran itu disanggah oleh
Merasugun dengan mengatakan bahwa sebelumnya dirinya
tidak menganut agama apapun dan itu adalah keinginan
hatinya dan dua anak keponakannya. Dialog tersebut
diterjemahkan oleh Firdaus Asso, yang sudah lancar
berbahasa Indonesia.

Sejenak Orang Madura yang belum dikenal namanya hingga
kini itu berfikir, lalu menatap wajah ketiga orang
yang masih lugu dan masih mengenakan koteka itu. Dan
katanya; Â"Boleh, tapi kamu harus menutup Aurat!Â",
Segera ia kekamar dan memberikan serta memakaikan
Merasugun celana tanpa menanggalkan koteka yang sedang
dikenakan. Selanjutnya Muslim Madura itu sampaikan
niat tiga orang Suku Dani dari Walesi ini kepada tokoh
muslim lain yang ada di sekitar kota Wamena.

Pada Minggu berikutnya Merasugun, Ali Asso, dan
Firdaus Asso disuruh datang pada hari Jum'at. Dan
secara resmi disyahadatkan ba'dah jum'at di masjid
Baiturrahman Wamena yang disaksikan oleh jama'ah
sholat jumÂ'at. Minggu-minggu selanjutnya Merasugun,
Firdaus Asso dan Ali Asso (dua pemuda ini kelak
pejuang Islam setelah sepeninggal Merasugun tahun yang
wafat tahun 1978), selalu datang ikut sholat JumÂ'at,
dengan tiap pagi jalan kaki turun-naik gunung sekitar
6 km dari Walesi ke Wamena Kota.

1). Perjuangan Merasugun

Merasugun tidak lama sesudah masuk Agama Islam meminta
agar dibangunkan "Gereja Islam", (maksudnya, Masjid),
di kampungnya di Walesi sekaligus Sekolah Islam agar
anak-anaknya dari clan Assolipele Walesi bisa sekolah.
Untuk maksud ini Merasugun menyediakan tanah wakaf
serta menyiapkan batu, kayu, pasir di kampungnya.

Usulan ini segera disetujui oleh beberapa orang muslim
yang datang di Wamena sebagai Petugas pemerintah sipil
maupun militer seperti Pak Paijen dari Dinas Agama,
Pak Thohir dari Kodim, dan Abu Yamin dari Polres
Jayawijaya. Karena itu, sebelum kalau ingin
dibangunkan Masjid dan Madrasah di Walesi, Merasugun
harus datang membantu bekerja mengangkat batu dan
mengumpulkan pasir dari Kali Uwe karena Masjid Raya
Baiturahman Kota Wamena saat itu sedang dibangun.

Syarat ini disetujui oleh Merasugun, berikutnya
Merasugun, Ali dan Firdaus Asso pulang ke Walesi dan
mengundang segera tenaga kerja kepada Nyasuok Asso,
Nyapalogo Kuan, Aropemake Yaleget, Wurusugi Lani, Udin
Asso dan Walekmeke Asso, untuk mengeruk galian batu
dan pasir di sekitar Kota Wamena, dari Kali Uwe.
Keenam orang nama tersebut kelak menjadi pemeluk Agama
Islam dari Walesi gelombang kedua.

2). Dokter Mulya Tarmidzi Mengkhitan

Suatu ketika dalam tahun 1978 seorang dokter Kolonel
Angkatan Laut 10 dari Hamadi, Jayapura Propinsi Papua,
diundang ceramah datang ke Kabupaten Jayawijaya, untuk
memberikan ceramah, yang tempatnya di gedung bioskop
kota Wamena. Oleh sebab itu Merasugun dan warga
lainnya dari Walesi yang muallaf diundang datang
mendengarkan ceramah.

Penceramah yang tidak lain adalah Dokter Kolonel H.
Muhammad Mulya Tarmidzi itu selesai ceramah sampai
sekitar jam sebelas malam. Selanjutnya ia menginap di
Hotel Balim. Kira-kira pada jam 12 tengah malam
Merasugun, Firdaus Asso, Nyapalogo Kuan, Nyasuok Asso
dan Ali Asso, Aropemake Yaleget, Udin Asso dan
Wurusugi Lani datang mengetuk pintu kamar Dokter Mulya
menginap dengan mengucap salam khas muslim yakni; :
Â"Assaiamu'ataikumÂ"! Walaupun sudah tengah malam
karena mendengar ucapan salam khas Muslim, Dokter
Mulya Tarmidzi, berani membukakan pintu.

Dan ternyata salam itu berasal dari orang-orang yang
masih mengenakan koteka ini adalah orang yang tadi
dilihatnya di gedung Bioskop. Dia sebelumnya menduga
mereka bukan muslim, karena Merasugun dan rombangan
lainnya masih mengenakan Holim/Koteka, (kecuali
Firdaus Asso sudah mengenakan celana pendek). Dan dia
menganggap bahwa mereka mungkin pas lagi lewat atau
memang sekedar mencari makanan dalam acara ceramah
itu.

Tatkala dipersilahkan duduk diruang tamu di hotel
oleh Dokter Mulya Tarmidzi, Merasugun menyampaikan
maksud dan tujuan kedatangannya dengan beberapa pemuda
dari Walesi. Setelah minta maaf karena datang ditengah
malam. Lalu Merasugun menyampaikan beberapa usulan
yaitu :

1). Permohonan dukungan agar di kampungnya segera
dibangunkan "Gereja IslamÂ". 2). Anak-anak dari
Walesi kelak menjadi pintar seperti dokter Mulya untuk
itu perlu disekolahkan di Jayapura
3). Agar di Walesi di bangunkan Madrasah

Semua usulan diterima dan disetujui secara baik dan
kepada Merasugun dijanjikan oleh dokter Mulia
Tarmidzi, bahwa nanti akan diusahakan secara bertahap
dengan mengkoordinasikan usulan Merasugun, kepada
orang-orang Muslim lain terlebih dahulu.

Dalam kesempatan itu sejumlah usul dan keinginan
Merasugun semua disampaikan dalam bahasa Wamena kepada
Dokter Muhammad Mulya Tarmidzi, yang kemudian
diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia oleh Firdaus
Asso yang sudah sekolah di SD Inpres, Megapura
sehingga sudah lancar berbahasa Indonesia.

Selanjuntnya semua usul secara baik disetujui oleh
Dokter Kolonel Haji Muhammad Mulya Tarmidzi dan untuk
mendukung keinginan Merasugun ini segera dibentuk
Islamic Centre yang pengurusnya dari pejabat pemda.
Esok harinya dibantu oleh tenaga kesehatan dari Rumah
Sakit Kota Wamena; Letnan Kolonel Muhammad Mulya
Tarmidzi, segera menyunat (khitan) 8 orang pertama
yang masuk Agama Islam itu untuk menyempurakan
syahdatnya; kira-kira demikian hemat Kolonel yang juga
Dokter dan Ahli Agama Islam itu.

Pada bulan berikutanya dalam tahun 1978, anak-anak
dari Walesi sebanyak 5 orang (termasuk Firdaus Asso
dan Muhammad Ali Asso) di kirim ke Jayapura dan
dititipkan kepada beberapa orang pejabat muslim
sebagai orang tua asuhnya.

Demikian sudah harapan dan cita-cita Merasugun
terkabul agar anak-anak dari Walesi untuk disekolahkan
diluar Wamena. Â"Agar kelak ada yang menjadi seperti
Dokter Mulya Tarmidzi,Â" demikian usul Merasugun yang
diterjemahkan oleh Firdaus Asso.

Usulan paling penting diantaranya yang diusulkan oleh
Merasugun adalah kontruksi bangunan model Pondok
Pesantren Model di Jawa yang membuat decak kagum.
Dokter Kolonel Muhammad Mulya Tarmidzi, mengingat
Merasugun belum penah tahu kalau yang diusulkannya itu
adalah persis sama model kontruksi dan sistem bangunan
lingkungan Pondok Pesantren yang biasa ada di Pulau
Jawa.

Kemudian 20 orang dalam bulan berikutnya dikirim dan
diasuh oleh beberapa Orang Tua Asuh di kota Jayapura.
Ongkos pengiriman semua ditanggung oleh Haji Saddiq
Ismail, (kala itu Sadiq Ismail menjabat Kabulog
Propinsi Irian Jaya) yang selanjutnya membentuk Kasub
Dolog Jayawijaya guna mempermudah menyampaikan
bantauan logistik dan bantuan material lainnya karena
di Walesi segera akan dibangun Masjid dan Madrasah
sesuai keinginan dan usulan Merasugun dulu.

Guna memperlancar transportasi dan memudahkan
pengangkutan material bangunan Masjid dan Madrasah
Walesi, Ir. Haji Azhari Romuson, Kepala PU Propinsi
Papua segera membangun jalan Walesi-Wamena sekitar 6
Km. Bisa dibayangkan semua usulan Merasugun dulu sejak
Dokter Kolonel Angkatan Laut Muhammad Mulya Tarmidzi,
Haji Saddiq Ismail SH Kadolog Propinsi, dan Ir. Haji
Azhari Romusan dari PU Propinsi adalah cukup besar
perannya perkembangan Islam lebih lanjut di Walesi.

Bertepatan dengan 20 anak Walesi yang dipimpin Firdaus
Asso datang sekolah di Jayapura untuk melanjutkan
pendidikannya disekolah Muhammadiyah dan Madrasah
Ibtidaiyyah di Ibukota Propinsi Papua. Dua Kepala Suku
Perang yang Berani dari Clan Assolipele secara resmi
disyahatkan oleh Kolonel Thahir, di Wamena. Kolonel
Thahir adalah Pendatang dari Bugis dan Tentara yang
saat itu bertugas di Kodim Jayawijaya.

Â"Sesungguhnya kita adalah milik Alloh SWT, dan akan
dikembalikan kehadirat-Nya kapan saja
dikehendaki-NyaÂ", Â"sebagaimana juga Dia memberikan
hidayah kepada siapa yang di kehendaki-NyaÂ", dan
akhimya pada tahun 1980 Merasugun telah dipanggil
kehadirat Alloh SWT, dengan meninggalkan semua usulan
da'wahnya yang belum tuntas, yakni obsesinya
mewujudkan kompleks Islamic Centre terutama Masjid dan
Madrasah.

Dua tahun sepeninggal Merasugun pada tahun 1982
bangunan sekolah (Madrasah Ibtidaiyah) dan masjid
selesai. Untuk menghormati atas jasa-jasa semangat
perjuangan Merasugun, maka nama Madrasahnya diabadikan
menjadi Madrasah Ibtidaiyyah Merasugun Asso Walesi.

Maka seterusnya Pemuda Firdaus Asso menyusul
dipanggil Alloh SWT untuk selamanya pada tahun 1984 di
Jayapura. Firdaus Asso yang sangat berjasa dan
berperan besar mengembangkan Islam dikalangan suku
pribumi di Walesi, sesudah Merasugun. Dia menyusul
kepergian Merasugun setelah dua tahun dalam usia yang
sangat muda dan produktif yakni 25 tahun.

2. Perkembangan Kini

a. Muslim Wamena

Dari sejak tahun 1960-an akhir sampai tahun 1970-an
awal, di kota Wamena Kabupaten Jayawijaya banyak
datang penduduk pindahan dari Jawa (transmigrasi), dan
para perantau asal Indonesia Timur, terutama orang
Madura, Bugis, Buton dan Makasar. Pengenalan Agama
Islam lebih intensif dengan Suku Dani di Wamena
Kabupaten Jayawijaya melalui interaksi dalam masa ini,
terutama perdagangan system barter antara para
muhajirin pendatang dan penduduk lokal yang berbusana
koteka.

Organisasi da'wah baru didirikan guna lebih menunjang
psoses da'wah, seperti Islamic center, YAPIS, Panti
Asuhan Muhammadiyah dan akhir-akhir ini juga
Hidayatullah dan NU di Wamena giat melakukan da'wah
dikalangan pribumi Muslim Suku Dani di Wamena.

b. Muallaf di Walesi

Di kota Wamena arah selatan 6 km kini terdapat
penduduk pribumi yang penduduknya beragama Islam sejak
lama. Walesi adalah pusat Islam (Islamic Centre), bagi
pengembangan Islam dari kalangan penduduk asli.

Guru-guru (ustadz), sejak awal didatangkan dari
Fak-Fak yang sejak lebih dulu muslim dari abad ke 16
di selatan kepala Burung Papua. Kini di walesi
terdapat sebuah Pondok-Pesantren Al-Istiqomah
Merasugun Asso, Madrasah Ibtidaiyah, rumah guru 4
buah, masjid 12x12 dan sebuah puskesmas. Walesi
sebagai Islamic Centre telah menampung anak-anak Suku
Dani dari 12 kampung yang masyarakatnya baragama
Islam.

Masyarakat Muslim Jayawijaya terdiri dari 12 kampung
yang penduduknya telah lama menganut Agama Islam pada
tahun 1960-an akhir pasca integrasi. Kampung-kampung
itu adalah Htigima, Air garam, Okilik, Apenas, Ibele,
Araboda, Jagara, Megapura, Pasema, Mapenduma, Kurulu
dan Pugima. Jumlah penganut Islam di Wamena kabupaten
Jayawijaya kira-kira 12 ribu jiwa, dari 400 ribu jiwa
seluruh penduduk Jayawijaya, namun angka yang lebih
tepatjumlah pemeluk Islam belum diperoleh secara
pasti.

c. Anak-Anak Pria Muallaf

Anak-anak Muallaf adalah kelompak potensial proses
Islamisasi di Kabupaten Jayawijaya, mengingat semua
agama besar yang kini hadir di Papua khususnya di
Pegunungan Tengah, umumnya tidak mampu merubah pola
kehidupan lama masyarakat tradisional Papua yang
memiliki religi lama yang berorientasi masa lampau.

Kalangan Birokrat Muslim yang menjabat sebagai Ketua
Islamic Centre menyadari ini, maka secara periode
mengirim anak-anak muallaf dari Suku Dani, dikirim
belajar pertama di Panti Asuhan Muhammadiyah AB
Jayapura dan Madarasah Ibtidaiyyah YAPIS di Ibu kota
Jayapura dalam tahun 1972 sebanyak 20 orang anak.

Dalam tahun 1980 ada 2 orang anak Suku Dani datang
belajar di Universitas Muhammadiyah Jogjakarta. Sedang
lulusan Madrasah Ibtidaiyyah Merasugun Asso Walesi
sebanyak 4 orang pertama didatangkan ke pondok
pesantren Al-Mukhlisin, dan Darul Falah, Bogor. Kini
dari anak-anak ini ada yang menempuh pendidikan di
berbagai universitas Islam Bogor (Ibnu Kholdun), UMJ
dan UIN Ciputat. Saat ini tiga orang dari Walesi
menempuh S2 konsentrasi di study Islam dan Otonomi
Khusus UMJ Ciputat Jakarta. Dua orang lain lagi di UM
Jogjakarta dan UIN di kota yang sama.

Jumlah seluruhnya anak-anak Muallaf asal Suku Dani
dari Papua kini tersebar di berbagai kota study di
Pulau Jawa dan mayoritas di Ciputat berjumlah 21
orang. Sedang anak-anak Muallaf yang belajar di pondok
pesantren sebanyak 45 orang yang sudah terdata. Jumlah
ini tidak termasuk anak-anak yang dibawa koordinasi
Ustadz Aliyuddin sejak tahun 1990-an awal berkisar 700
orang dari seluruh Papua.

d. Anak-anak Perempuan Suku Dani

Sejak tahun 1980 anak-anak muslimah dari kalangan
Muallaf Dari Kabupaten Jayawijaya, sudah mengirim
sebagai peserta MTQ (Musabaqoh Tilawatil Qur'an dan
tomba Qosidah tingkat Nasional mewakili Propinsi
Irianjaya (kini Papua). Mereka mempunyai bakat dan
potensi yang sama dengan anak-anak prianya. Namun yang
menjadi masalah adaiah tradisi yang menyebabkan Orang
Tua Suku Dani tidak dapat membiarkan anak- anak
perempuan mereka pergi jauh.

Dampak dari kurangnya kesadaran Orang Tua Suku Dani di
Wamena saat ini adalah mengawinkan anak-anak usia
sekolah yang masih belasan tahun dikawinkan. Contoh
kasus beberapa kali terjadi adalah saat orang tua
mengawinkan anak-anak perempuan masih muda dengan pria
yang usianya lebih tua, menyebabkan mereka kawin lari.



Sampai dewasa ini dari 20 anak perempuan muslimah Suku
Dani belajar di SMU Yapis Wamena. Dari Wamena Muslim,
kaum perempuannya belum ada yang belajar keluar
sebagaimana umumnya anak letakinya. Mereka kini banyak
belajar agama di Pesantren Al-Istiqomah Walesi dan
beberapa orang melanjutkan tingkat lanjutan (SMP/SMU)
di YAPIS Wamena.



muslimpapua@ymail.com
http://mpapua.blogspot.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar